Tak sebatas mimpi panjang dari waktu tak terbataskan, atas keberadaan sebuah lembaga Perguruan Tinggi bernama STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa setelah dua tahun lalu penegeriannya, kini kian menunjukkan eksistensinya. STAIN concer. Dengan latar belakang sejarah panjang juga memiliki nilai historis penting untuk didalami guna mewujudkan cita-cita luhur para pendirinya. “Karena ia tidak dibangun dengan sebuah aktivitas yang kosong dari makna, tetapi karena impian dan keinginan untuk melihat kehidupan yang lebih tercerahkan bagi generasi mendatang.”
Kutipan di atas adalah sekelumit ungkapan Dr. Zulkarnaini Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa pada wisuda ke-9 di kampus Meurandeh, Rabu (30/12). Sang Ketua mengetengahkan sejarah panjang berdirinya lembaga pendidikan ini atas dasar keinginan dan cita-cita luhur.
“Ia ibarat pohon yang ditanam tetua, yang mungkin ia sendiri tidak akan pernah sempat memetik buahnya,” tukas lelaki muda itu lagi, “tetapi ia tidak akan berhenti menanam,” tandas Zulkarnaini. Disebutkan, pohon itu memang bukan untuk dipetik buahnya, tetapi untuk diwariskan kepada anak-anak dan cucunya. Merekalah yang akan menikmati hasilnya. Dalam nada yang lembut nan santai Sang Ketua STAIN ini mengisbatkan bahwa pohon itu adalah lambang cinta, kasih sayang dan kepedulian, karenanya tak patut dikotori kedengkian, ketamakan dan sikap-sikap merugi.
Dalam kesempatan itu dia berharap akan pohon itu harus dirawat dengan baik supaya dapat memberikan hasil yang maksimal. Hendaknya orang-orang yang menikmatinya dapat bersyukur kepada Allah dan sedianya berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa menanamnya. Menyimak untaian ungkapan lelaki muda yang bergelar doktor itu, bak mendengar kecapi bergurindam seumpama dawai yang mengalun nada-nada yang berkalbu, namun menggugah penuh nilai filosofi. “STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa telah menjadi sebuah realitas, adalah sebatang pohon yang kini telah tumbuh nan rindang serta berakar kuat menghujam di dasar bumi,” ungkap Zulkarnaini seraya menerangkan, ini adalah sebuah simbol dari realitas kehidupan keilmuan dan harapan masyarakat Aceh umumnya Kota Langsa khususnya.
Sebagaimana dilaporkan Pembantu Ketua Bidang akademik STAIN, Drs. H. Basri Ibrahim, MA, 302 wisudawan/ti ini merupakan bagian dari jumlah total 3.777 lulusan sarjana. “Dengan bertambahnya 302 lulusan yang diwisuda ini maka STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa telah menghasilkan 3.777 sarjana,” urai mantan aktivis HMI itu dalam laporannya. Sejumlah sarjana yang telah dihasilkan ini diharapkan menjadi kekuatan baru dalam mengisi pembangunan fisik dan mental di negeri ini. Sebagai asset bangsa, yang memiliki basic ilmu agama sedianya penerapan nantinya tak hanya sebatas pencerahan dalam konsepsi religi, namun lebih dari itu bisa menjadi sebagai motivator dan motor penggerak pembangunan di segala dimensi.
Sejalan dengan apa yang disampaikan Ketua STAIN, Dr. Zulkarnaini dalam mengartikulasi bahwa pohon yang dimaksudkan adalah bukan sembarang pohon, tetapi pohon ilmu dan peradaban. “Ia menyimpan segudang harapan; ia adalah cahaya pencerahan, penerang hati dan pikiran, dan sumber mata air bagi umat yang dahaga,” kata lelaki beranak tiga itu sambil melanjutkan, lembaga ini harus menjadi mesin yang memproduksi ulama, cendekiawan, intelektual dan pemimpin besar yang cerdas secara santun, berakhlak mulia serta responsif terhadap gejala—perkembangan zaman.
Sebagaimana tujuan pemerintah mendirikan lembaga-lembaga Perguruan Tinggi Islam ini sebagai upaya dan langkah konkrit dalam membangun bangsa yang beradab, sehingga dapat menjadi negeri yang baldhatun thayyibatun wa rabbun qhafur. “Yakni negeri yang baik dan memiliki tatanan yang prima dalam berbagai dimensi kehidupan sekaligus mendapat keampunan Allah SWT,” kata pembicara Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag dalam orasi ilmiah pada wisuda tersebut. Dia menyebutkan, untuk menjadikan STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dengan eksistensinya yang tak perlu diragukan lagi, namun dibutuhkan konsistensi dan ikhtiar berkelanjutan, sehingga lembaga Perguruan Tinggi ini bisa mengambil peran strategis serta benar-benar mampu menajadi agen perubahan di tengah bangsa dan umat manusia.
Namun demikian, STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa harus juga menyadari, bahwa keberadaan dengan segenap daya terus berusaha memajukan diri, tentu tak luput dari dinamika perubahan. Keberadaan lembaga ini akan ‘survive’ bilamana mampu bertumpu pada segenap perubahan itu sendiri. “Jika tidak, maka lambat atau cepat lembaga ini akan tertinggal dan ditinggalkan,” kata Syamsul Rijal di hadapan seribuan hadirin.
Peunutoh
Sebelumnya Ketua STAIN, Dr. Zulkarnaini menukaskan, prosesi wisuda adalah sebuah ritual keilmuan untuk mengukuhkan—meresmikan keberadaan seseorang yang telah memeroleh ijazah di Perguruan Tinggi setelah limit waktu yang ada menyelesaikan tugas belajar. “Mereka yang telah diwisuda berarti telah diijazahkan atau telah mendapatkan peunutoh dalam bahasa Aceh sebagai seorang sarjana atau ulama’ dalam bahasa Arab atau scholar dalam bahasa Inggris,” cetusnya seraya berharap, hendaknya para lulusan ini dapat mengaplikasikan ilmunya, sehingga bermanfaat dan bermakna bagi kehidupan dunia dan akhirat kelak. [www.waspada.co.id]














